POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

POST-TITLE-HERE

Posted by Author On Month - Day - Year

POST-SUMMARY-HERE

Tampilkan postingan dengan label Black Community. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Black Community. Tampilkan semua postingan

Blog ini ikut serta Djarum Black Blog Competition

Diposting oleh Suicune And the Pair of Heart On 19.29 1 komentar
Dari 1 Lomba blog ke lomba blog lainnya...
kali ini Blog kiki diikut sertakan ke Djarum Black Blog Competition

mumpung masih di Jogja dan punya koneksi Internet yang stabil, karena jika di banyuwangi yang namanya koneksi internet Astagfirullah lemot abiiis..

Okay here come


bagi yang mau Ikut juga bisa melihat info berikut

DJARUM BLACK BLOG COMPETITION
Yang Perlu Di perhatikan

Pendaftaran artikel blog dimulai dari tanggal 06 Desember 2008 sampai dengan 31 Maret 2009.
Penilaian akan dimulai dari tanggal 01-09 April 2009.

http://www.autoblackthrough.com/blogcompetition/_images/hadiah-blog.jpg


OVERVIEW

Djarum Black Blog Competition adalah suatu kompetisi menulis dikalangan blogger Indonesia. Tulisan memuat pengalaman sehari-hari dan pandangan individu terhadap suatu hal.

LATAR BELAKANG

  • Perkembangan yang sangat pesat pada komunitas blogger di indonesia.
  • Untuk menemukan generasi baru yang lebih expressive, speak up their opinion, care to their surroundings, and creative.
  • Bloging sudah menjadi Lifestyle.

SYARAT DAN KETENTUAN

  1. Peserta bukan karyawan , mitra usaha dan rekanan PT Djarum.
  2. Blog dibuat dan dikelola oleh WNI.
  3. Tidak ada batasan pada pekerjaan, kemampuan menulis, ataupun tema blog pribadi yang dirasa kurang sesuai. Yang menjadi penilaian adalah isi dari artikel yang diajukan.
  4. Artikel yang diajukan untuk kompetisi menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris dapat dipergunakan sebagai konten artikel tetapi hanya sebagai pelengkap artikel saja, bukan menjadi bahasa utama penulisan artikel.
  5. Konten dari artikel merupakan tulisan dari pengelola blog.
  6. Isi artikel yang diajukan merupakan hasil pemikiran pribadi.
  7. Isi artikel tidak berhubungan dengan periklanan internet, tidak mengandung unsur pornografi dan pornoaksi, tidak mengandung SARA, dan bukan hasil plagiarisme.
  8. Peserta dapat mencantumkan informasi produk (apabila diperlukan).
  9. Menggunakan bahasa yang menarik dengan gaya bahasa apapun selama sopan.
  10. Jumlah artikel yang memenuhi ketentuan keyword wajib harus lebih dari 20 artikel (tanpa ada batasan jumlah kata keseluruhan).
  11. Artikel yang akan di nilai adalah artikel-artikel yang diposting pada jangka waktu yang ditentukan.

KEYWORD WAJIB

Keywords Wajib adalah kata kunci yang wajib ada pada tulisan dengan jumlah minimal 2 dari daftar berikut :

  1. Djarum Black
  2. Djarum Black Slimz
  3. Djarum Black Slimznation
  4. Djarum Black Motodify
  5. Djarum Black Night Slalom
  6. Autoblackthrough
  7. Autoblackthrough goes to campus
  8. Blackinnovationawards
  9. Blackinnovationawards goes to campus
  10. Black In News
  11. Black Car Community
  12. Black Motor Community
  13. Black Community
Untuk Info Lebih lengkap ada baiknya kalian KLik disini

Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 - My own way To coloring earth

Diposting oleh Suicune And the Pair of Heart On 02.21 5 komentar
Meski sempat harus mengulang tulisan ini karena di kerjain oleh salah satu teman saya, akhirnya tulisan ini selesai juga



Tema : Jadilah Sahabat Bumi (Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3)
Judul : My own way To coloring earth
Silahkan Kunjungi http://www.mudaers.com






kadang kita sering bertanya, apa yang bisa di lakukan oleh manusia terhadap bumi yang sudah renta ini? Bumi, tempat yang sudah menjadi tempat tinggal manusia selama 5,8 milyar tahun, banyak yang sudah di berikan oleh bumi terhadap manusia, melalui event ini tampaknya Kompas Mudaers dan IM3
mecoba menggugah pikiran para anak muda di indonesia untuk berpikir lagi, bagaimana cara menyelamatkan bumi ini, bagaimana kita bisa memberikan bumi kesempatan untuk bernafas lega sejenak.



You think you own whatever land you land on
The Earth is just a dead thing you can claim
But I know every rock and tree and creature
Has a life, has a spirit, has a name

You think the only people who are people
Are the people who look and think like you
But if you walk the footsteps of a stranger
You'll learn things you never knew you never knew

Have you ever heard the wolf cry to the blue corn moon
Or asked the grinning bobcat why he grinned?
Can you sing with all the voices of the mountains?
Can you paint with all the colors of the wind?
Can you paint with all the colors of the wind?

Come run the hidden pine trails of the forest
Come taste the sunsweet berries of the Earth
Come roll in all the riches all around you
And for once, never wonder what they're worth

The rainstorm and the river are my brothers
The heron and the otter are my friends
And we are all connected to each other
In a circle, in a hoop that never ends

Have you ever heard the wolf cry to the blue corn moon
Or have the Eagle tell where he's been?
Can you sing with all the voices of the moutnain
Christy Carlson Romano - Colors Of The Wind
Can you paint with all the colors of the wind
Can you paint with all the colors of the wind

How high will the sycamore grow?
If you cut it down, then you'll never know
And you'll never hear the wolf cry to the blue corn moon

For whether we are white or copper skinned
We need to sing with all the voices of the mountains
We need to paint with all the colors of the wind

You can own the Earth and still
All you'll own is Earth until
You can paint with all the colors of the wind


lyric lagu Pocahontas - the Color Of the wind
dinyanyikan Oleh Vanessa William

lihat baik baik lirik lagu ini, tentunya anda akan melihat makna yang tersembunyi di dalam tiap untaian bait lirik lagu tersebut, dapat kah kalian melukis dengan warna alam, bagaimana anda bisa tahu pohon bisa tumbuh tinggi jikalau kau tebang begitu saja, yang ku tahu, baik itu batu, tumbuhan, hewan dan benda di alam.. punya nama, punya kehidupan dan punya Ruh

maka Oleh karena itu Ijinkanlah saya melukiskan warna dari angin ke dalam tulisan saya berikut ini.





Potret Bumi masa Kini

* Tahukah kamu kalau suhu udara di bumi telah meningkat 1,4 derajat celcius dalam 127 thn terakhir ini ?

* Tahukah kamu bahwa gunung es di kutub akan mencair seluruhnya pada thn 2040 jika tingkat pemanasan global tidak dapat dikurangi saat ini ?

* Tahukah kamu saat ini hanya terdapat 27 gunung es yang masih dapat diidentifikasi dari 150 yang tercatat pada thn 1910 ?

* Tahukah kamu bahwa Industri diseluruh dunia menghasilakn 332 BMT gas CO2 setiap harinya ? ini diperkirakan 30 % lebih besar daripada kemampuan seluruh tumbuhan dimuka bumi ini untuk menyerapnya.

* Tahukah kamu bahwa suhu permukaan air laut telah meningkat 0.6 derajat celcius dalam 25 thn terakhir dan tinggi air laut diseluruh dunia rata2x meninggkat sekitat 14 Cm dalam 10 thn terakhir ?

* Tahukah kamu bahwa mundurnya AS dari Protokol kyoto telah menyebabkan emisi gas buang CO2 bertambah 20 % dari perkiraan semula ? North America (US & Canada) menyumbang 36 % dari seluruh gas buang CO2 didunia ini. Tempat kedua diduduki uni Eropa dgn 13,2 % dan Cina berada ditempat ke 3 dengan 12.4 % berikutnya adalah Rusia + former ussr dengan 6,7 % dan Jepang dengan 5 %, negara terakhir yang masuk dalam kumpulan ini adalah India yang menghasilkan 3,3 % dan Korea Selatan dengan 2,4 %. Gabungan dari negara2x industri maju (24 negara) ini telah memberikan kontribusi 80 % gas karbon buangan dunia, sementara 20 % sisanya di bagi rata kepada 159 negara lainnya.

* Tahukah kamu EU adalah kelompok negara yg memberikan kontribusi terbesar bagi Global Restoration Program dengan mengalokasikan 220 milliar Euro dalam jangka waktu 10 thn. Target mereka adalah mengurangi gas buangan industri di negara EU dan penghijauan hutan2x dunia ? (Dalam kelompok ini Jerman adalah negara penyumbang terbesar)

* Tahukah kamu UN memperkirakan 12 % penduduk dunia akan mengalami bahaya kelaparan akut, produksi pangan akan menurun 16 % diseluruh dunia, Grain Price (harga Pagan dalam bentuk biji atau bulir, termasuk padi, gandum, dll) akan meningkat 100 % pada thn 2010 ?

* Tahukah kamu, Hasil observasi dan kalkulasi Ilmuwan menunjukan bahwa kalaupun manusia berhenti menggunakan fossil fuel dan menghentikan produksi pabrik2x sama sekali dan mematikan semua listrik didunia ini maka efek pemanasan global baru akan reda setelah 100 thn ? Berdasakran Wigley Model on Global Warming, bahkan jika manusia melakukan hal tersebut diatas maka pada thn 2100 (penelitian dilakukan pada thn 2000) suhu udara rata2x didunia akan meningkat 4 derajat celcius dan ketinggian air laut diseluruh dunia akan meningkat 30 Cm.

* Tahukah kamu bahwa Gunung Es besar di Greenland mencair semua maka ketinggian air laut akan naik mencapai 7 meter ? Dengan tingkat suhu sekarang maka hanya dibuthkan pertambahan 3 derajat celcius pada pemanasan global, dan dengan tingkat pertambahan suhu saat ini paling tidak dalam waktu 50 thn maka suhu itu akan tercapai. Dengan suhu rata2x 5-6 derajat celcius maka seluruh gunung es di green land akan sepenuhnya mencair dalam waktu 37 thn.

* Tahukah kamu bahwa Es di kutub utara telah hilang hampir 60 % nya ? Pada thn 1979, musim panas di kutub utara menunjukan bahwa Arctic ice memiliki luas sebesar 6,74 juta Km persegi. Pada thn 2007, musim panas dikutub utara menunjukan hasil 2,61 Juta Km Persegi

* Tahukah Kamu, Kerusakan Hutan di indonesia bisa Mencapai Seluas 300 Lapangan Sepakbola setiap Jamnya? Boleh percaya atau tidak hal itu membuat Indonesia tercatat di Guiness world Record sebagai negara penghancur hutan tercepat 2008, 1,871 juta hektar hutan di Indonesia di hancurkan pertahun antara tahun 2000 sampai 2005, sementara Luas hutan Indonesia sampai dengan Tahun 2005 adalah 88,495 juta hektar. tingkat kehancuran sebesar 2 % setiap tahunnya atau bisa di bilang 51 KM persegi tiap harinya

melihat fakta di atas rasanya merinding juga, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika hal ini terus terjadi, akankah masih ada bumi yang bisa kita pijak? bagaimana tidak merinding akan melihat masa depan Bumi. fakta fakta diatas semakin membeberkan kalau bumi sendiri makin lama makin melemah.

terus apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak tersebut?
jawabnya ada banyak

* Hemat kertas,
* Kurangi sampah
* Kurangi Pemakaian Plastik
* Hemat air
* Naik sepeda/jalan untuk jarak dekat
* Naik bis untuk jarak jauh
* Ganti lampu dengan yang hemat energi
* Gunakan alat elektronik hemat listrik

mungkin sebagaian jawaban dia atas memang benar adanya,
Contoh
kita bisa menghemat kertas

Setiap lembaran kertas dihasilkan dari sebatang pohon. Kertas dari bahan kayu keras dibuat dari batang pohon Jati, Ek, Damar, Maple dll. Kertas yang dibuat dari kayu pohon lunak misalnya dari pohon pinus.Kertas dari pohon dari kayu keras lebih lembut dan enak dipakai menulis, tetapi sayang kertas kayu keras tidak sekuat kertas kayu lunak. Maka untuk mendapatkan lembaran kertas yang bagus dihasilkan dari campuran sebatang pohon berkayu keras dan pohon berkayu lunak.

Berapa lembar kertas yang dihasilkan dari sebatang pohon?

Mari kita perkirakan dengan hitungan berikut ini: Ada sebuah lahan yang ditanam pepohonan berkayu keras. Lebarnya 8 kaki, panjangnya 4 kaki, dan tingginya 4 kaki. 3 kaki kira-kira sama dengan 1 meter. Apa saja yang bisa dihasilkan oleh lahan ini? Ternyata pohon-pohon itu bisa menghasilkan 1000-2000 pon kertas, atau 1/2-1 ton kertas, atau 942.100 halaman buku, atau 4.384.000 perangko, atau 2700 eksemplar koran, atau…berapa eksemplar lagi halaman majalah kesayangan anda? Jadi berapa banyak jumlah pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan kertas yang ada di seluruh dunia?…Hmmm, silakan anda hitung sendiri…Fantastis bukan? Bisa dibayangkan, kalau manusia tidak menanam pohon kembali, maka hutan-hutan akan gundul dan gersang…hiiii seram kan, membayangkan bencana yang akan timbul.

Menghemat kertas, berarti menghemat : POHON, MINYAK, ENERGI LISTRIK DAN AIR. Kalau kita menghemat 1 ton kertas, berarti kita juga menghemat 13 batang pohon besar, 400 liter minyak, 4100 Kwh listrik dan 31.780 liter air. Fakta yang luar biasa!

Memang setiap orang tidak bisa menghemat kertas sebanyak 1 ton. Tetapi kalau setiap orang melakukan penghematan minimal 1 lembar kertas per hari, pasti di seluruh dunia berton-ton kertas yang dapat dihemat bukan?

Berdasarkan penelitian para ahli, satu hektare hutan selama satu jam mampu menyerap 8 kg gas CO2, sama dengan proses 200 orang bernapas. Satu pohon yang berfotosintesis sama dengan menyerap 1 kg CO2 dan mengeluarkan 0,73 kg O2. Dengan kemampuan ini, secara matematis dapat diperkirakan sebagai berikut, jika hutan kota dibangun disekitar 500 kota yang ada di Indonesia (33 ibu kota provinsi ditambah ibu kota setiap kabupaten/kota), dan setiap kota membangun minimal 2 hutan kota maka akan diperoleh sebanyak 1.000 hutan kota. Jika setiap hutan kota ini ditanami minimal 100 pohon, akan diperoleh 100 ribu pohon di Indonesia yang tumbuh dalam 1.000 hutan kota tersebut. Karena satu batang pohon mampu menyerap CO2 sebesar 1 kg untuk melakukan satu kali proses fotosintesis, dengan 100 ribu pohon akan mampu menyerap CO2 sebesar 100 ribu kg. Bisa dibayangkan jika pohon melakukan aktivitas fotosintesis sekali sehari, sudah berapa gas CO2 yang terserap dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun? Perkiraan ini akan bertambah lagi dengan program pemerintah melalui Perhutani yang sudah menyiapkan 400 juta bibit yang rencananya ditanam di 200 ribu hektare hutan kosong dengan operasi hutan lestari tanpa batas. Ditambah lagi dengan pohon-pohon yang ada di taman-taman dan deretan pepohonan yang ada di sepanjang jalan di setiap kota. (www.kabarindonesia.com)


FIUUUH.. itu baru 1 cara, menghemat kertas..., gimana dengan menerapkan cara lainnya yah? tentunya makin banyak sekali penghematan yang bisa kita lakukan, berarti juga banyak sekali sumbangsih yang kita berikan ke bumi itu sendiri

Coloring Earth With My Own WAy
nah disinilah terjadi perdebatan sengit antara pikiran saya, dalam hal Ini adalah Dilema yang terjadi sebagai salah seorang mahasiswa, apalagi jikalau Musim Paper melanda, bisa dibilang di jurusan Ilmu Hubungan internasional ini, setiap minggunya setidaknya ada 3 Paper yang harus di Kumpul ke meja dosen, dan jikalau sudah dekat waktu Ujian akhir, Ujian paper pun makin menggila dimana kalau pada waktu biasa hanya sekitar 5-7 lembar kertas, sedangkan UAS sendiri udah minim 10 halaman...

*itu baru saya saja, bagaimana dengan yang lainnya, jadi dalam seminggu berapa banyak kertas yang terkumpul?

inilahnya dilema saya, diantara menyelamatkan bumi dan menyelamatkan NIlai...
utopis memang terkadang saya ingin menyelamatkan dunia dan menyelamatkan nilai saya.. tapi bagaimana caranya?

lalu terlintaslah ide

Bagaimana jika selagi kita berperang dan berjuang menyelamatkan bumi dari kehancuran kita juga mendidik generasi muda supaya peduli dengan Isu Lingkungan~!

Lalu apa Kendalanya? jangan di tanya kendalanya, pasti banyak sekali yang akan bisa di List dari kendala kendala tersebut, tapi mari fokus kebeberapa isu
Mode, Teknologi, Entertaiment, Kurikulum pelajaran
keempat isu inilah yang saya rasa menjadi kendala bagi kaum muda untuk peduli terhadap isu lingkungan, lalu

bagaimana kita ubah agar isu ini bisa di mengerti orang kalangan Muda, agar mereka bisa konsen ke isu lingkungan

berikut mungkin beberapa Saran yang bisa di terapkan agar generasi Muda bisa paham dan ambil bagian dalam isu Lingkungan.

1. GANTUNGAN HANDPHONE VERSI TANAMAN MINI
NOTES : IDe ini merupakan Ide dari Kementrian Desain Indonesia Blog, tapi saya rasa cukup bagus untuk di terapkan


100 Juta pengguna handphone di Indonesia bisa kita manfaatkan untuk terlibat membantu menanam bibit tanaman. Pemerintah cukup mensubsidi pembuatan gantungan HP yang kami desain dan disebarkan melalui sekolah, instansi pemerintah, perusahaan hingga LSM lingkungan seperti WALHI.

Apabila sudah besar, tanaman tersebut bisa dipindahkan di halaman rumah masing - masing atau ditukarkan ke departemen lingkungan hidup.
Bayangkan apabila ada 100 juta bibit tanaman yang tumbuh mekar ? Bumi Pertiwi pasti bahagia :)




2. Harvest Moon merupakan Game Wajib yang harus di mainkan oleh anak-anak
siapa sih yang tidak tau harvest moon, game simulasi kehidupan mengenai cara manusia bisa survive di peternakan dan menseleraskan kehidupan manusia dengan alam disamping menjalankan misi untuk mencari uang,
Game yang Di Release oleh Natsume Company Ltd. (ナツメ株式会社, Natsume Kabushiki kaisha?) ini kiki acungi 3 jempol sebagai Game yang wajib di mainkan Oleh berbagai Kalangan, game yang mengambil unsur simulasi pertanian ini sama sekali tidak mengandung unsur kekerasan di dalamnya *kecuali kamu mukulin ternak pake palu
dengan grafis yang imut, kita di ajarkan bagaimana merawat sebuah perternakan, baik dari membeli bibit, memberi pupuk tanaman, merawat tanaman hingga berbuah dan di panen, serta merawat hewan ternak hingga menghasilkan suatu nilai plus yang membantu Gamer Survive di Gamenya

3. National Geographic sebagai Buku pegangan wajib anak sekolah dasar.


Eh salah Cover

Nah Ini baru bener
National geographic, adalah buku favorit kiki, buku yang bagus untuk memperkenalkan kepedulian pada Alam dan Lingkungan sekitar,
buku yang di produksi oleh National geographic Society ini, tidak perlu di tanyakan lagi mutu conten dan isinya, bahkan kalau anda membayar 50 ribu untuk sebuah buku ini, anda tak akan rugi
dengan conten bagus, berbobot serta disertai Foto sekelas Kaliber Dunia, National Geographic pantas untuk di jadikan buku bacaan anak SD

4. NO INFOTAIMENT DAN SINETRON DI TIVI, ganti dengan Discovery Channel atau Animal Planet.

melihat acara tivi yang ada membuat saya agak trenyuh melihatnya, anak anak cenderung lebih hapal nama pemain sinetron ketimbang bagaimana bentuk hewan sebenarnya, perlu di perhatikan banyak sekali sobat muda yang mungkin merasa sering melihat SInetron atau Infotaiment terkadang di tonton Oleh anak-anak dengan gamblang tanpa pengawasan Orang tua

Oleh karena itu saya mandatkan Pada pemerintah Untuk meregulasi agar SLOT PRimetiime dari Televisi di ubah dari SINETRON dan INFOTAIMENT menjadi saluran bermutu macam Animal Planet Atau Discovery Channel,


5. Setiap Rumah Setidaknya Mempunyai Green House
pendidikan yang di terima oleh setiap Individu, keluarga adalah tempat pertama kali mereka menempa diri untuk mendapat pengetahuan yang memadai dan berguna di kemudian hari..

oleh karena itu Keluarga merupakan dasar yang penting demi membentuk generasi baru bagi kepedulian terhadap isu lingkungan, terus jikalau tidak ada Lahan memadai, kan bisa pake atap rumah bahkan ubah saja rumah tersebut jadi rumah Hijau, kalau perlu jadi hutan belantara, hitung hitung penghijauan







akhir kata, sekian dari saya.. apabila ada tulisan yang menyinggung saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Tertanda Rifcy Zulficar

10 Hal yang kau hanya temui di Indonesia

Diposting oleh Suicune And the Pair of Heart On 01.09 0 komentar

Manusia memang paling hobi men-chart-kan segala hal. Ada 10 tangga lagu teratas,10 manusia terkuat, 10 artis terpopuler, 10 things I hate about you dan masih segudang lagi. Kenapa tak dibuat chart atau daftar 10 hal yang cuma ada di Indonesia?

Daripada Anda terbengong-bengong saat pacar bule terbaru Anda bertanya, "Honey, what’s unique thing you can only find in Indonesia?". Gawat kalau sebagai warga (baca: pacar) Indonesia Anda cuma bisa jawab "Aaa…aaa…apa ya?".


Biarkan saya menolong Anda untuk turut menyenangkan pacar bule Anda dengan membantu membuat daftar 10 ini. Jangan pernah tanya kenapa 10, bukan 13 seperti Friday The 13th atau 40 seperti Top 40 Chart. Yang pasti 13 masih saya percaya bikin sial dan 40 bisa bikin saya gempor. Jadi cukup 10 saja, walaupun pemerintah menyarankan 2 saja cukup.

1. Borobudur
Jangan pernah melupakan Borobudur sebagai hal yang "cuma" ada di Indonesia. Borobudur adalah salah satu dari 7 keajaiban dunia dan pasti tercantum di semua brosur-brosur pariwisata. Bule Anda pasti akan bertanya atau minta diajak kesana. Percayalah pada saya bahwa pertanyaan terpenting yang akan dilontarkan si bule adalah, "How many Buddha statues does Borobudur have?". Ingatlah bilangan ini setiap Anda akan mampir borobudur, "504 Budha statues, my dear". Pasti dia akan semakin cinta dengan pacarnya yang buatan Indonesia tulen ini (jangan lupa rekomendasikan nama saya untuk teman-teman bulenya).

2. Sambel
"Kok belum dimakan?" tanya saya pada pacar Indonesia saya. "Nggak ada sambel sih, yang", jawabnya ringkas. Untunglah saya dan pacar tinggal di Indonesia nan permai ini dan tak pernah kelangkaan sambel. Beruntung dia belum pernah ditukar Badak Sumatera atau Beras ke Amrik atau Aussy sebagai murid pertukaran saat sekolah dulu. Jangan pernah berharap McDonald atau Wendy’s menyediakan 2 dispenser sambal dan saos sekaligus selain di Indonesia.

3. Bali
Jangan lupa menyebut Bali bila orang yang Anda ajak ngobrol saat berkunjung ke mancanegara tak kunjung mengerti apa dan dimana itu Indonesia. Jangan pula marah bila pacar bule Anda lebih hafal tempat-tempat di Pulau Dewata ini daripada jalan menuju rumah Anda. Jangan pula pernah pacaran sama bule manapun didunia kalau Anda belum mengunjungi Bali. Percayalah sekali lagi bahwa Anda tak akan pernah meraih "The Best Bule Lover Award" bila tak tahu Bali.

4. Pedagang Kaki Lima
Percayalah bahwa punya kaki lima di Indonesia ini lebih beruntung daripada hanya kaki dua. Bila punya kaki lima Anda punya "hak" untuk berada diatas trotoar 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang tahun kecuali hari raya Lebaran mungkin, itupun karena pilihan sendiri. Punya kaki dua hanya bikin Anda capek melipir-melipir sampai melintir dipinggiran trotoar sehingga Anda menyerah dan naik taksi saja dan berpikir lebih enak jalan-jalan di PS saja.

5. Ondel-ondel
Jangankan di negara lain, di Indonesia pun Anda cuma bisa lihat ondel-ondel setahun sekali, saat ulang tahun Jakarta. Jangan anggap remeh ondel-ondel karena bentuknya yang norak, sebab bisa-bisa Anda malah pernah dijuluki si ondel-ondel. "Aduh jeung, kamu dandannya kayak ondel-ondel deh!". Sebagai orang Indonesia dengan semangat cinta budaya yang tinggi, Anda seharusnya bangga bisa mirip ondel-ondel.

6. SMS Terusss
Di Indonesia, saat handphone jadi barang tak mewah lagi anehnya harga pulsa jadi sebaliknya. "Mahal bok!" Tak heran kalau saat jalan-jalan di atriumnya Plaza Senayan Anda tiba-tiba ditubruk cowok atau cewek keren yang lagi pencet-pencet HP. "Udah sampe nih, nek. Capcay!". Jangan pula marah bila "calon" pacar Indonesia Anda berlagak sibuk pencet-pencet HP saat blind date dengan Anda. Mungkin dia benar-benar sibuk tapi sekarat pulsa atau pura-pura main game karena Anda bukan calon pacar impiannya.

7. Presiden Perempuan
Sebagai perempuan Indonesia, Anda punya kesempatan lebih besar jadi presiden. Buktinya sudah ada Ibu Mega sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia. Mumpung sebentar lagi Pemilu, Anda, para perempuan, bisa segera mencalonkan diri. Tak banyak lho presiden perempuan di dunia. Anda pasti akan jadi primadona saat KTT Non Blok.

8. Monas
Kalau Perancis punya Eiffel, Amerika punya Liberty, Itali punya Pisa, kita punya Monas. "Belum pernah ke Monas? Kasiaaan deh!". Berpura-pura sajalah Anda pernah kesana dengan menghafal jawaban yang akan dilontarkan calon pacar bule Anda selanjutnya (pacar bule kemarin sudah me-"laut"-kan Anda gara-gara lupa jumlah stupa Buddha di Borobudur, kan?). Tinggi Monas 137 meter, selesai dibangun tahun 1967, obornya terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg.

9. Bunga Bangkai
Mungkin pacar bule Anda akan sangat senang bila pesta pernikahan nanti dihiasi bunga-bunga khas Indonesia. Tapi jangan pernah memesan bunga eksotis bernama "Bunga Bangkai" untuk jambangan bunga di meja atau buket yang akan Anda lempar sesaat setelah Holy Matrimony, walaupun yayang bule Anda sudah merengek habis (bayangkan anda tertimpa Bunga Bangkai selebar 1 meter saking inginnya jadi "the-next-being-married"). Walaupun ada 170 jenis bunga bangkai diseluruh Asia dan Afrika, yakinkanlah pacar bule Anda bahwa Indonesia tetap juaranya. Kenapa? Karena bunga terbesar tetap ada disini dengan lebar 1 meter dan tinggi sampai 5 meter (bayangkan ini jadi dekorasi pelaminan Anda atau nangkring dimeja). Mau lihat Bunga Bangkai berbunga? Anda cuma punya waktu 24 jam setelah 3-10 tahun menunggu.

10. Warung
Beritahu pacar bule Anda lagi bahwa jangan pernah percaya kata "warung" saat perut keroncongan. Mungkin Anda pernah bilang, "My dear, kalau lapar cari saja warung". Karena orang Indonesia gemar kata warung maka semua pun bisa "diwarungkan". Ada warung kopi, warung pojok, warung nasi uduk, warung gado-gado, warung internet, warung telepon (atau telekomunikasi?). Mungkin suatu saat nanti saat penyebutan bahasa asing untuk nama toko atau butik dilarang lagi maka Plaza Senayan akan memunculkan Warung Baju Prada, Warung Tas Luis Vuitton, Warung Minum Alesandro Naninni, Warung Kopi Coffee Bean atau Warung Segala Ada Sogo.

Beres!!!
Bila 10 daftar ini membuat Anda sukses dengan pacar bule Anda, saya berjanji akan membuat buku. Mungkin tak hanya 10 tapi bisa 50 atau 100. Tapi maafkan saya bila pacar bule tetap saja meninggalkan Anda.

Kenapa?
"Kamu cuma bisa sepuluh. Saya tahu orang yang bisa buat 50, bahkan 100!", jawabnya enteng dengan aksen bule tapi bahasa Indonesia belepotan.

AKU MUAK BICARAIN ISRAEL PALESTINA

Diposting oleh Suicune And the Pair of Heart On 02.31 1 komentar


mungkin memang tak seharusnya aku berkata demikian, tapi apa daya.. otak ini sudah muak mendengar berita dan pembicaraan sana sini tentang israel palestina....

emang sih aku berada di jurusan ilmu hubungan internasional, dan adanya suatu isu tentu akan di bahas abis-abisan... tapi yang paling parah adalah beberapa soal ujian malah mengacu ke kasus ini.... lalu apa yang kita pelajarin 6 bulan hilang begitu saja gitu?



bah.. belum lagi di tambah beberapa oknum yang bener-bener bikin muak, karena melakukan pemaksaan kehendak dalam memasukkan nilai ke otak kiki, maaf ya! apalagi orang-orang ini memakai dalil agama... hooooo *udah deh kiki bener-bener mumet ama dalil agama. daripada puyeng mending menyingkir

kemudian ada beberapa orang yang kurang begitu tahu isunya, dan hanya tahu sedikit beritanya, tiba misuh-misuh(merancau dengan bahasa kasar.red) tidak jelas.. bayangin aja mood kiki tiba2 hancur begitu saja karena orang-orang macam ini

belum lagi teriakan ngajak jihad
"eh tolooool.. gue disini kuliah bukan jihad!"

eeeee pengennya sih teriak begono... tapi apa daya demi kesopanan hanya tersenyum saja dan bilang, haduh aku sibuk e, haduh aku pikir-pikir dahulu ya?



terus lagi ada statement orang

"jangan-jangan, lo juga menganggap bahwa gambar-gambar korban berdarah-darah warga sipil Palestina yang ditayangkan di TV cuma efek kamera belaka! Terserah sih, kalo lo mau beranggapan begitu."

najiiiis sumpah dah bikin keki ni orang. dikira CUMAN ELU YANG LIHAAT TUH BERITA kiki tuh tiap hari lihat dan menganalisa serta mencoba menahan untuk tidak mengumpat serta mencoba se netral mungkin supaya tidak membawa-bawa masalah AGAMA dalam ranah masalah ini.

INTINYA KIKI MUAK BICARAIN PALESTINA ISRAEL

Majority saya bagi World peace

Diposting oleh Suicune And the Pair of Heart On 11.47 1 komentar

wah, sebenarnya ide tulisan ini adalah ketika mendengar kata WOrld Peace lalu kenapa saya berada di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

BAGI saya keberadaan saya di Hubungan internasional sendiri tidak terlepas dari keinginan saya akan mengenal budaya luar dan menjalin hubungan dengan negara lain, selain itu ternyata takdir juga menentukan saya masuk ke Hubungan Internasional ini, jadilah yang namanya Rifcy Zulficar ini seorang mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah mada, padahal waktu itu sebelum masuk UGM sudah keterima UI dan STAN.. tapi karena ada beberapa pertimbangan kembali saya memilih UGM



pada waktu di tanya alasan kenapa masuk Hubungan internasional pun alasannya masih CEPE BANGET *cupu maksudnya

oke, karena kemaren dapat ISu yang indah dan cantik banget saya mencoba menulis Ulang kenapa saya masuk Hubungan internasional

jreng jreeng jreeng jreeeng... isu tersebut adalah WORLD PEACE atau perdamaian dunia.


oke

World peace, as far as i know... dunia ini memang masih di landa perang kok, baik itu perang melawan kemiskinan, perang melawan kebodohan, bahkan perang melawan monster dan robot dari luar angkasa (haduh ini yang terakhir mah hasil hayalan saya abis lihat Tokusatsu) yah perang tengah berkecamuk di masa damai ini, lihat saja sekarang kemiskinan masih melanda, ketakutan masih banyak. dan paling parah adalah beberapa negara melegalkan perang untuk menginvasi negara lain, kejadian terakhir israel yang menggempur palestina kemaren

saya kembali berpikir, jangan jangan
world peace itu sendiri adalah suatu ide yang sangat Utopis, sangat humanis, sangat idealis.. bahkan sangat manis. pada kenyataannya keberadaan world peace sendiri masih di pertanyakan, karena saya merasa keberadaan dari world peace sendiri dirasa sangat AMAT tidak mungkin, orang realisme selalu bilang, peace baru bisa terpenuhi apabila semua kebutuhan dan keingginan individu itu terpenuhi, orang liberalisme selalu bilang asal ada akses terhadap aktor pasti peace bisa terjadi dan menonjolkan kerja sama, bla bla bla ampe feminisme bilang peace baru bisa tercapai kalau ada peranan wanita di dalamnya...

semua itu benar kok "KATA PERSPEKTIF itu sendiri" tapi kok aku bisa tahu.. ya iyalah jelas, selama belajar di Hubungan internasional persepektif dan tingkatan analisa selalu jadi dasar dalam menyelami masalah dalam menganalisa suatu kasus, bisa di bilang ini merupakan makanan sehari hari bagi para mahasiswa jurusan ilmu hubungan internasional sendiri.

Lalu apa hubungannya dengan world peace itu sendiri??

karena WORLD PEACE itu sendiri terletak di tatanan pikiran dan level yang UTOPIS banget menurut saya, mempelajari hubungan internasional sendiri amat penting artinya bagi pencapaian yang UTOPIS ini, kita tahu mencapai WORLD PEACE sendiri adalah suatu yang susah, banyak sekali hambatan banyak sekali tantangan


tapi dalam hubungan internasional itu, kita justru menganalisa tantangan dan hambatan tersebut, memberikan suatu laporan faktual, analisis tajam, mencermati setiap kemungkinan yang akan terjadi, serta saran yang sekiranya dapat diambil jika sewaktu waktu terjadi Worst scenario dalam menuju
WORLD PEACE itu sendiri.

jikalau di perhatikan baik-baik keberadaan ilmu hubungan internasional sendiri amat mendukung untuk WORLD PEACE itu sendiri, betapa tidak banyak sekali mata kuliah yang di ajarkan yang sekiranya ternyata mendukung untuk mencapai keadaan Utopis tersebut. coba deh urutin satu persatu, di Jurusan hubungan internasional kita mulai belajar dari teknik diplomasi, teknik negosiasi sampe ke studi kawasan hanya untuk memperdalami analisa suatu masalah dan sekiranya dapat mengantisipasi permasalahan tersebut di kemudian hari.

WORLD PEACE sendiri merupakan suatu masalah sosial, seperti yang kita tahu permasalahan di sosial sendiri semakin lama tentunya semakin berubah, hal ini bisa dilihat karena trend dari manusia yang menimbulkan kata Sosial itu sendiri juga berubah setiap saat, bisa Trend perang terjadi, trend baju juga keren, trend bunuh diri dan lain lain

tentunya hal ini membuat saya menyadari, ternyata Hubungan Internasional sendiri bisa amat Fleksibel tidak seperti terapan hukum lainnya, meski levelnya berada dalam kerjasama internasional, akan tetapi ternyata permasalahan yang perlu dianalisa bisa sampe ke akar akarnya

sebagai contoh,

  • kita bisa menjadi orang ekonomi saat membicarakan pengaruh dana Talangan atau Bail out amerika kemaren *padahal ndak di ajarin ekonomi* tapi ada ekonomi politik internasional
  • kita bisa menjadi pengamat teknologi informatika saat ternyata globalisasi bisa menyebar melalui dunia maya dan menghegemoni segala hal
  • kita bisa menjadi orang Hukum, saat kita berusha melihat intervensi amerika ke irak dan ternyata pada saat itu amerika melanggar hukum humanitarian internasional
  • kita bisa menjadi orang antropholog dengan belajar sistem masyarakat jepang, sistem masyarakat korea, polpem korea jepang dan sebagainya pokoknya tentang budaya
  • menjadi orang sastra saat kita belajar bahasa asing untuk skill internasional relationship kita
  • dll
pokoknya secara gamblang bisa dibilang Hubungan internasional sendiri seperti tidak punya keterikatan terhadap suatu Objek, meski tampaknya bahasan kami tidak akan sangat terperinci sekali hingga seperti majority yang lain.. tapi ke fleksibilitasan inilah yang menurut saya membuat saya yakin Hubungan internasional dapat berperan penting dalam WORLD PEACE

begitulah adanya, ternyata banyak sekali hal yang mendukung
WORLD PEACE dalam mempelajari ilmu hubungan internasional.



Menjadi Mahasiswa terpelajar = menjadi Skeptis

Diposting oleh Suicune And the Pair of Heart On 03.17 2 komentar
terkadan kiki juga bingung bagaimana mulainya, akan tetapi entah dari kapan setiap kiki melihat segala sesuatu mulai terasa "ah ini pasti ada jeleknya" "ah pasti ada maen belakang" "ah nanti juga hasilnya jelek". ya begitulah sikap skeptis ini sering saya lakukan akhir-akhir ini, apalagi menjelang pasca pemilu 2009. saya jadi semakin skeptis karena melihat para calon legislatif mencalonkan diri,

apalagi kalau saudara-saudara melihat ke kampung halaman saya, niscaya yang namanya spanduk, bilboard, baleho atau apapun namanya dan memuat wajah calon legislatif laris nangkring di pinggir jalan bak jamur di musim hujan yang bersemai indah sepanjang pematang sawah *cie bahasa gue.



padahal semasa SMA ndak pernah loh mikirin sampe segitu dalam soal janji janji para caleg, paling hanya "Oh caleg ini namanya ini" udah gitu aja tanpa ada embel-embel "paling paling dia ntar gini"
semasa kuliah ini lah yang mulai membuat saya banyak berpikir terhadap politik, memang sih kuliah di hubungan internasional fakultas ilmu sosial dan politik universitas gadjah mada yang ternama itu membuat saya semakin skeptis.. betapa tidak, banyak sekali teori teori serta pemikiran yang di jejalkan kepada saya, sehingga pada akhirnya ketika menanggapin suatu kasus saya harus berpikir ulang dan sebagai imbas akhirnya.. pikiran negatif mengenai suatu kebijakan memang sering terlihat

apakah karena di HI sendiri di ajarkan tentang Perspektif Realisme yang mengajarkan bahwa semua keputusan atau hubungan pasti ada latar belakang kebutuhan dari masing masing aktor? sehingga KAMI para Mahasiswa Hubungan Internasional sendiri cenderung berpikiran negatif?
"ah ini pasti ada maunya"

apalagi kemaren waktu prabowo subianto meniru-niru langkah barack obama di facebook untuk menggaet para pemilih pemula. saya jadi berpikiran skeptis "ah paling juga terbengkalai, kan orang indonesia jarang bisa maintenance teknologi, ah itu hanya ikut-ikutan metode aja biar beken, ah paling juga gagal" ndak pernah dalam pikiran saya ada pikiran positif, "wah bagus ya sudah pake teknologi untuk kampanye!"

melihat sikap kiki ini, kiki jadi berpikir ulang, apakah karena telah belajar segala sesuatu di kuliah membuat kita bisa berpikir skeptis? benarkah?

puisi cinta untuk dia

Diposting oleh Suicune And the Pair of Heart On 08.37 0 komentar

Menari di atas pisau cinta..

Mata yang telah sembab dan bibir yang telah basah...

Pipi yang telah mencekung...

Dan tubuh yang mulai mengering...

Itulah cermin diriku pada masa kini dan nanti..

Aku menari di atas pisau cinta yang pahit..

Mengerikan dan membuat jantung enggan untuk berdetak..

Tarian kematian itu aku hadirkan dalam derasnya tangis..

Dan putihnya pandangan,

Tanpa warna...tanpa bentuk....

Saat aku menari aku tahu bahwa kapan saja

pisau itu dapat membelahku dengan mudah,

Namun hari demi hari berjalan tanpa mengalirkan darah...

Yang membuatku merasa..

Hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan...

Dengan lewatnya waktu..

Tanpa hadirnya sosok pribumi terindah yang pernah kulihat...

Nafasnya yang kurasakan adalah kasih sayang tak berwaktu..

Dan matanya yang kulihat adalah palung cinta yang terdalam..

Senyumnya yang manis dan merekah..

Adalah lukisan termahal yang pernah ada...

Dan hadirnya adalah perhiasan termegah yang pernah membekas dalam ingatan..

Begitu hidup ia dalam diriku..

Hingga tak segan kubiarkan akarnya menjalar dan meracuni tubuhku,..

Begitu cepat kubiarkan hadirnya..

Memenuhi buku hidupku yang semakin hari semakin terhias oleh kata-kata indah..

dan sejuta ekspresi keceriaan tanpa ada jeda untuk sisipkan kesedihan..

Ternyata dunia tidak begitu ikhlas..

memberikannya kepadaku dengan cuma-cuma..

Semua itu harus terbayar mahal dengan caci..

Angin dan badai kepadaku.. menerpa dan menggulingkan aku..

Hingga jatuh terhempas..

Begitu keras dan nyeri yang sangat...

Duniaku berubah menjadi kemuraman ..

Yang bahkan dajjal akan merasa terlalu gelap untuk melihat...

Kerapuhan mulai tertawa dan tergelak saat aku merayap selangkah demi selangkah

Menaiki tangga hidup yang terlalu curam..

Sakit dan kebimbangan mulai berkoar...

Agungkan kemenangannya saat melihat aku yang mulai tersengal saat bernafas..

Aku tersenyum kepada itu semua dengan lemah..

Dan sadari bahwa tubuh lunglai ini memang sudah tak kuasa untuk berdiri..

Ataupun duduk, ia hanya bisa terbaring..

Dan menatap langit yang tawarkan keindahan

dan kebebasan yang hanya menjadi mimpi tak terbeli...

Cinta...

Ternyata tajamnya melebihi ekscalibur yang terkenal..

Tenaganya lebih dahsyat daripada gunung es yang mengkaramkan titanic...

Aku menitirkan air mata seperti kalian yang mendalami perasaanku,..

Aku berteriak sperti ibu yang melihat anaknya ditembak mati dihadapannya,..

Dan aku terkapar seperti pengembara yang tersesat di gunung pasir dan kehausan..

Tapi...aku tak dapat membenci ..... nya.

By Suicune soul

Teori teori dalam Hubungan Internasional

Diposting oleh Suicune And the Pair of Heart On 13.40 0 komentar
Menurut Stephen M. Walt semenjak berakhirnya perang dingin terjadi berbagai perubahan di dalam teori hubungan internasional. Beragam teori dan metode berkembang.[1] Yang disertai pula dengan munculnya beragam isu-isu baru seperti, konflik etnik, lingkungan dan masa depan nation-state­.

Ada tiga paradigma yang dibahas oleh Walt di dalam artikelnya ini yaitu, Realisme, Liberalisme dan Konstruktivisme. Dalam pembahasannya tersebut Walt banyak mengulas tentang perkembangan-perkembangan yang terjadi pada masing-masing paradigma.

Realisme

Salah satu kontribusi yang diberikan realisme adalah perhatiannya terhadap permasalahan relative gains dan absolute gains. Merespon kalangan institusionalis yang beranggapan bahwa institusi internasional memungkinkan negara meninggalkan keuntungan jangka pendek untuk meraih keuntungan jangka panjang, para realis seperti, Joseph Grieco dan Stephen Krasner menyatakan bahwa sistem yang anarkis memaksa negara untuk memperhatikan secara bersamaan: 1) absolute gains dari kerjasama dan; 2) aturan main dalam distribusi keuntungan di antara partisipan. Logikanya adalah, jika sebuah negara mendapatkan keuntungan lebih besar dari yang lain maka ia secara gradual akan semakin kuat. Sementara negara yang lain akan semakin rentan (vulnerable).

Selain itu, realis juga cepat dalam merespon isu-isu baru. Barry Possen menawarkan penjelasan realis tentang konflik etnis. Ia mencatat bahwa pecahnya negara-negara multietnis menempatkan kelompok etnis lawan dalam situasi yang anarkis. Sehingga memicu intensitas ketakutan dan menggoda (tempting) masing-masing kelompok menggunakan kekuatan untuk meningkatkan posisi relatif mereka. Permasalahan ini akan semakin parah ketika di dalam wilayah masing-masing kelompok terdapat kantong-kantong (enclaves) yang didiami oleh etnis lawan. Karena masing-masing pihak akan tergoda melakukan pembersihan (cleanse) – bersifat preemptif – kelompok minoritas dan melakukan ekspansi untuk memasukan anggota kelompok mereka yang berada di luar batas wilayah.

Tetapi menurut Walt, pengembangan konsep yang paling menarik dari paradigma realis adalah munculnya perbedaan pemikiran antara kelompok “defensif” dan “ofensif”. Kalangan realis-defensif semacam Waltz, Van Evera dan Jack Snyder berasumsi bahwa negara memiliki sedikit kepentingan intrinsik di dalam penaklukan militer (military conquest). Dengan alasan, biaya yang dikeluarkan untuk ekspansi, umumnya, lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh. Bagi mereka, sebagian besar perang besar (the great power wars) disebabkan oleh kelompok-kelompok domestik yang membesar-besarkan persepsi atas ancaman dan adanya keyakinan yang tinggi terhadap kemanjuran kekuatan militer.

Kalangan ini melihat bahwa perang lebih mungkin terjadi ketika kemungkinan untuk melakukan penaklukan diantara negara-negara sangat mudah dilakukan. Namun ketika defense lebih mudah dilakukan dibandingkan offense, keamanan akan muncul dimana-mana, dorongan untuk ekspansi berkurang dan kerjasama akan berkembang. Dan jika defense memiliki keuntungan dan negara-negara mampu membedakan antara senjata untuk bertahan dan menyerang, kemudian negara-negara dapat memperoleh alat-alat untuk mempertahankan diri tanpa mengancam negara lain. Dengan demikian mengenyahkan efek dari sistem yang anarki. Dalam pandangan kalangan realis-defensif, “states merely sought to survive and great powers could guarantee their security by forming balancing alliances and choosing defensive military postures (such as retaliatory nuclear forces)”[2]

Namun pandangan tersebut mendapat tantangan dari sejumlah teoritisi lain. Diantaranya adalah Peter Liberman yang menulis sebaliknya, bahwa manfaat dari melakukan penaklukan (conquest) seringkali lebih besar dari pada biaya yang harus dikeluarkan. Liberman mengemukakan argumentasinya dengan memberikan sejumlah kasus seperti, pendudukan Nazi atas Eropa Barat dan hegemoni Uni Soviet atas negara-negara Eropa Timur. Yang dengan demikian membuang keraguan terhadap klaim bahwa ekspansi militer tidak efektif lagi.

Kritik datang pula dari kalangan realis-ofensif seperti, Eric Labs, John Mearsheimer dan Fareed Zakaria yang menyatakan bahwa situasi anarki mendorong negara-negara untuk mencoba memaksimalkan kekuatan relatif mereka karena tidak satupun negara dapat memastikan kapan kekuatan revisionis sesungguhnya akan muncul.

Perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan pandangan diantara kalangan realis dalam melihat persoalan internasional, semisal masa depan Eropa. Bagi kalangan realis-defensif seperti Van Evera, perang tidaklah hanya sedikit memberi keuntungan dan seringkali lahir dari militerisme, hypernationalism, atau beragam distorsi yang berasal dari faktor domestik. Van Evera mempercayai bahwa sebagian besar kekuatan militer tidak berperan (absent) di era pasca perang dingin. Ia berkesimpulan bahwa “the region is “primed for peace””. Sebaliknya para realis-ofensif berpendapat bahwa system yang anarki mendorong kekuatan-kekuatan besar untuk berkompetisi terlepas dari karakteristik internal mereka dan kompetisi keamanan akan kembali ke Eropa.

Liberalisme

Dalam tulisannya ini Walt mengulas mengenai perkembangan teori ‘democratic peace’. Teori ini berpendapat, meskipun demokrasi tampak “mensponsori” perang namun ia jarang melakukan peperangan di antara mereka. Karena norma-norma demokrasi menentang penggunaan kekerasan sesama mereka.

Namun keyakinan tersebut saat ini mendapatkan sejumlah suntikan perkembangan baru dari sejumlah teoritisi. Snyder dan Edward Mansfield menekankan bahwa negara-negara akan lebih mudah berperang jika mereka berada di tengah-tengah transisi demokrasi.[3] Sehingga upaya mengekspor demokrasi akan semakin memperburuk keadaan.

Bukti-bukti kuat mengenai demokrasi yang tidak saling berperang hanya ada pada masa-masa pasca 1945. Sebagaimana dinyatakan Joanne Gowa bahwa kekosongan konflik pada masa-masa pasca 1945 lebih disebabkan oleh kepentingan untuk menghadang Uni Soviet daripada to share prinsip-prinsip demokrasi.

Begitu pula dari jajaran liberal-institusionalis, terjadi sejumlah perkembangan-perkembangan baru. Saat ini bagi mereka, institusi dipandang sebagai fasilitator bagi kerjasama antar negara-negara yang memiliki kesamaan kepentingan. Dan setuju bahwa negara-negara tidak dapat dipaksa untuk bekerjasama jika itu bertentangan dengan kepentingan negara tersebut.

Sementara aliran liberal-ekonomik berpendapat bahwa “globalisasi” pasar dunia, kemunculan jaringan transnasional dan NGO dan penyebaran yang cepat teknologi komunikasi global mengurangi power dari negara-negara dan mengubah perhatian dunia dari persoalan keamanan militer ke persoalan kesejahteraan ekonomi dan sosial.

Bagi Walt walaupun terjadi perubahan-perubahan di dalam pemikiran ini namun logika dasarnya tetap sama yaitu, masyarakat global terjebak ke dalam jaring-jaring ekonomi dan sosial yang saling berkait dan resiko merusak jejalinan tersebut secara efektif menghalangi tindakan-tindakan unilateralis negara-negara, terutama dalam hal penggunaan kekerasan (force). Perspektif ini secara implisit menyatakan bahwa perang akan tetap merupakan pilihan yang jauh di dalam negara-negara demokrasi industrial tingkat lanjut (the advanced industrial democracies). Bagi mereka membawa Cina dan Rusia ke dalam kapitalisme dunia merupakan cara terbaik untuk mempromosikan kesejahteraan dan perdamaian, terutama jika proses ini menghasilkan kelas menengah yang kuat di dalam negara dan memperkuat tekanan bagi demokratisasi.

Konstruktivisme

Jika realisme dan liberalisme berfokus pada faktor-faktor yang bersifat material (kasat mata) seperti power dan perdagangan maka konstruktivis berfokus pada ide. Konstruktivis memberikan perhatiannya pada kepentingan dan identitas negara sebagai produk yang dapat dibentuk dari proses sejarah yang khusus. Mereka memberi perhatian pada wacana umum yang ada ditengah masyarakat karena wacana merefleksikan dan membentuk keyakinan dan kepentingan, dan mempertahankan norma-norma yang menjadi landasan bertindak masyarakat (accepted norms of behavior). Dengan demikian konstruktivis memberi perhatian pada sumber-sumber perubahan (sources of change). Dengan pendekatannya yang demikian maka konstruktivis menggantikan marxisme sebagai the preeminent radical perspective di dalam hubungan internasional.

Menurut perspektif konstruktivis, isu-isu utama di era pasca perang dingin berkait dengan persoalan-persoalan bagaimana kelompok-kelompok sosial yang berbeda-beda conceive (menyusun dan memahami) kepentingan dan identitas mereka.

Konstruktivis memberikan perhatian kajiannya pada persoalan-persoalan bagaimana ide dan identitas dibentuk, bagaimana ide dan identitas tersebut berkembang dan bagaimana ide dan identitas membentuk pemahaman negara dan merespon kondisi di sekitarnya.

Salah satu karakteristik dari konstruktivisme adalah non-universalis. Tidak ada ketunggalan analisa atas fenomena. Walt mencontohkan jika Wendt berfokus pada persoalan bagaimana anarki dipahami oleh negara-negara, maka kalangan konstruktivis lain menekankan pada persoalan-persoalan masa depan negara teritorial. Mereka menyatakan bahwa komunikasi transnasional dan penyebaran nilai-nilai civil (civic values) mengubah loyalitas national tradisional dan secara radikal menghasilkan bentuk-bentuk baru ikatan politik (political association).

Di dalam tabel berikut, Walt memberikan sejumlah perbedaan-perbedaan di antara ketiga pemikiran tersebut.

Tabel: Perbedaan Antar Perspektif di dalam HI

Competing Paradigm

Realism

Liberalism

Constructivism

Main theoretical proposition

Self-interest states compete constantly for power or security

Concern for power overridden by economic/political considerations (desire for prosperity, commitment to liberal values)

State behaviour shaped by elite beliefs, collective norms, and social identities

Main unit of analysis

States

States

Individual (especially elites)

Main instruments

Economic and especially military power

Varies (international institutions, economic exchange, promotion democracy)

Ideas and discourse

Modern theories

Hans Morgenthau

Kenneth Waltz

Michael Doyle

Robert Keohane

Alexander Wendt

John Ruggie

Representative modern works

Waltz, Theory of International Politics.

Mearsheimer, “Back to the Future: Instability in Europe after the Cold War” (International Security, 1990)

Keohane, After Hegemony.

Fukuyama, “The End of History?” (National Interest, 1989)

Wendt, “Anarchy Is What States Make of It” (International Organization, 1992)

Koslowski & Kratochwil, “Understanding Changes in International Politics” (International Organization, 1994)

Post-cold war prediction

Resurgence of event great power competition

Increased cooperation as liberal values, free market, and international institution spread.

Agnostic because it cannot predict the content of ideas

Main limitation

Does not account for international change

Tends to ignore the role of power

Better of describing the past than anticipating the future

Sumber: Walt, Foreign Policy, No. 110, Spring 1998.

Sementara Steve Smith[4] menulis, untuk memahami teori-teori internasional saat ini ada dua distinction yang harus dipahami terlebih dahulu. Pertama, perbedaan antara “explanatory theory” dan “constitutive theory”. Kedua mengenai “foundational theory” dan “anti-foundational theory”.

Bagi explanatory theory, dunia berada di luar teori. Sebaliknya constitutive theory menyatakan bahwa teori-teori yang ada mengonstruksi dunia.[5] Artinya, bagi kalangan eksplanatoris dunia dipahami berdiri sendiri tidak terpengaruh oleh faktor subjektivitas aktor-aktor yang berdinamika di dalam dunai sosial. Dunia bersifat objektif. Tetapi sebaliknya, kalangan constitutive melihat dunia sebagai hasil pemahaman individu atas lingkungan sosialnya.

Tentang perbedaan antara foundational theory dan anti-foundational theory terletak pada isu apakah keyakinan (belief) kita tentang dunia dapat dites atau dievaluasi menggunakan prosedur yang netral dan objektif. Bagi foundationalist kebenaran dapat diukur sehingga justifikasi atas benar atau salah dapat dilakukan. Berbeda, anti-foundationalist berpendapat bahwa bahwa justifikasi benar atau salah atas klaim kebenaran tidak dapat dilakukan karena tidak pernah ada sesuatu yang netral yang dapat melakukan itu. Bahkan setiap teori menentukan sendiri apa yang disebut sebagai fakta.

Explanatory theory cenderung kepada foundationalism dan constitutive theory cenderung kepada anti-foundationalism. Kebanyakan teori-teori internasional terbaru berada di dalam kelompok anti-foundational theory seperti, posmodernisme, sebagian teori-teori feminis dan sebagian besar teori normatif (normative theory).

Sementara sosiologi historis (historical sociology) dan teori kritis cenderung berada di posisi foundationalisme. Namun di antara dua kutub tersebut terdapat konstruktivisme sosial (social constructivism) yang berada di tengah-tengah.

Juga di dalam dinamika teori-teori internasional terdapat pula debat antara positivisme dan non-positivisme yangmenyebabkan terjadinya tiga kelompok besar, yaitu: [6]

1. Rasionalisme. Di dalam kelompok ini terdapat neo-liberalisme dan neo-realisme.

2. Reflektivisme. Di dalam kelompok ini terdapat posmodernisme, teori feminis, teori normatif (normative theory), teori kritis, dan sosiologi historis (historical sociology).

3. Konstruktivisme sosial. Yang berada di tengah-tengah kedua kutub.

Neo-Neo Synthesis

Di dalam tulisannya ini Smith menjelaskan bahwa dalam perkembangannya yang lebih lanjut, terutama sejak 1980-an, realisme dan liberalisme mencapai satu titik kesamaan. “Essentially each looked at the same issue from different sides: that issue was the effect of international institutions on the behaviour of states in a situations of international anarchy.[7]

Di dalam debat-debat yang terjadi di antara kedua perspektif tersebut ada dua poin yang perlu dicermati yaitu, pertama, neo-realis lebih menekankan pada relative gains sementara neo-liberalisme menekankan pada absolute gains. Perbedaannya adalah, katakanlah ada sebuah kue, jika kemudian negara-negara berpikir untuk mendapatkan potongan kue yang paling besar dari yang lain tanpa mempedulikan ukuran kue tersebut maka ia lebih menekankan pada relative gains. Sementara jika negara-negara berpikir untuk memperbesar ukuran kue agar seluruh negara dapat memperoleh potongan kue yang besar maka negara-negara tersebut lebih menekankan pada absolute gains.

Kedua, neo-realis tidak mempercayai bahwa institusi international dapat menanggulangi akibat dari anarki internasional. Sebaliknya bagi neo-liberal, mereduksi terjadinya misunderstanding dan kerjasama antar negara dapat mencegah efek-efek yang ditimbulkan oleh anarki internasional. Kemudian juga, jika neo-realis lebih menekankan pada masalah-masalah keamanan, neo-liberal lebih menekankan pada isu-isu ekonomi-politik.

Smith juga mencatat, mengikuti Baldwin, ada empat kelemahan yang dimiliki oleh ‘neo-neo synthesis’[8]:

  1. Kedua perspektif meninggalkan isu-isu the use of force yang menjadi kunci perbedaan utama antara realisme dan liberalisme pada decade-dekade sebelumnya. Kedua perspektif tampaknya berusaha melemahkan relevansi isu-isu tersebut di dunia modern saat ini.
  2. Jika sebelumnya liberalisme melihat aktor-aktor sebagai agen moral dan realis melihat aktor-aktor sebagai power maximizers maka di dalam perkembangan ‘neo-neo debate’ keduanya setuju bahwa aktor-aktor merupakan value maximizers.
  3. Jika sebelumnya terjadi perdebatan dimana realis menekankan negara sebagai aktor dan liberalisme menekankan pada ­non-state actors maka di dalam ‘neo-neo debate’ keduanya setuju bahwa negara merupakan aktor utama di dalam politik internasional.
  4. Jika realisme melihat konflik sebagai kunci untuk memahami politik internasional dan liberalisme melihat kerjasama sebagai sesuatu yang penting maka neo-neo debate melihat kedua-duanya, baik kerjasama dan konflik sebagai fokus perhatian.

‘Neo-neo synthesis’ dapat dikatakan lahir sebagai respon atas kegagalan realisme dan liberalisme klasik dalam menganalisis fenomena internasional yang tidak sepenuhnya berjalan seperti apa yang diteorisasikan oleh dua paradigma tersebut. Hal itu disebabkan oleh perilaku aktor-aktor internasional yang cenderung pragmatis, dalam pengertian memanfaatkan kedua pendekatan tersebut dalam mencapai kepentingannya, menyebabkan realitas sosial internasional tidak dapat dilihat secara hitam putih dari perspektif masing-masing pendekatan.

Fenomena ‘neo-neo synthesis’ tidak saja merubah sejumlah pandangan yang telah ada sebelumnya di masing-masing pendekatan namun juga melahirkan sejumlah persamaan pendapat pada kedua pemikiran tersebut yang menyebabkan semakin berkurangnya jurang pemisah antara (neo) realis dan (neo) liberalis.

Social Constructivism: Bridging The Gap

Jika kita mengikuti pola pembagian yang dilakukan oleh Lapid dia atas maka di dalam bagan, ketiga kelompok besar tersebut akan tampak seperti di bawah ini:

Posisi konstruktivisme yang berada di antara rasionalisme dan reflektivisme bagi Smith memberikan keuntungan sendiri karena dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak yang saling “bertikai” dan sulit mencapai kesepahaman. Sebagaimana ditulis olehnya,

“I am sure that it promises to be one of the most important theoretical development of recent decades; the reason is that is that if it could deliver what it promises then it would it would be the dominant theory in the discipline, since it could relate to the all other approaches on their own terms, whereas at the moment there is virtually no contact between rationalist and reflectivist theories since they do not share the same view of how to build knowledge.[9]

Untuk melengkapi penjelasan Walt di atas mengenai konstruktivisme ada baiknya untuk melihat beberapa inti dari pemikiran Alexander Wendt yang telah diringkas oleh Steve Smith di dalam tulisannya yang berjudul New Approaches to International Theory. Menurut Wendt, bagi neo-realis maupun neo-liberalis identitas dan kepentingan merupakan sesuatu yang given, sesuatu yang sudah ada begitu saja. Wendt tidak mempercayainya demikian, ia melihat bahwa identitas dan kepentingan merupakan hasil dari praktek inter-subjektif di antara aktor-aktor. Dengan kata lain identitas dan kepentingan merupakan hasil dari sebuah proses interaksi. Walaupun neo-realis dan neo-liberalis mengakui bahwa proses interaksi mempengaruhi perilaku aktor-aktor namun tidak bagi identitas dan kepentingan.

Selain itu Wendt juga menyatakan bahwa collective meaning menentukan struktur yang mengatur tindakan-tindakan kita. Dan aktor-aktor memperoleh kepentingan dan identitasnya melalaui pertisipasi di dalam collective meaning tersebut. Identities and interests are relational and are defined as we defined situations.[10]

Dari sini terlihat makin jelas bahwa berbeda dengan (neo) realisme dan (neo) liberalisme, konstruktivisme memberikan penjelasan yang berbeda dalam menganalisa fenomena sosial, khususnya fenomena internasional. Konstruktivis melihat fenomena sosial merupakan hasil bentukan dari interaksi antar aktor-aktor internasional[11], sebaliknya dengan realisme dan liberalisme. Yang melihat ada unsur-unsur yang ada begitu saja tanpa campur tangan aktor-aktor internasional (given).

Model analisa yang diberikan oleh konstruktivisme ini tidak dapat dilepaskan pengaruhnya dari perkembangan tren wacana sosial dewasa ini yang lebih banyak menitikberatkan pada persoalan-persoalan “dunia ide” yang menitikberatkan pada persoalan-persoalan konstruksi sosial atas realitas. Perkembangan teori-teori model ini tidak dapat dilepaskan pengaruhnya dari sekelompok ilmuwan sosial Jerman yang dikenal sebagai Mahzab Frankfurt (Frankfurt School) dimana salah satu pemikir terkenalnya adalah Juergen Habermas. Dari Mahzab Frakfurt ini kemudian berkembang teori-teori reflektivisme dengan berbagai variannya.

Jika dikaitkan dengan jaman kekinian, dimana mobilitas dan jumlah informasi yang berseliweran sehari-hari sangat tinggi (information age), teori ini memiliki relevansi yang sangat signifikan. Karena saat ini kekuasaan tidak lagi dilanggengkan dengan kekuatan senjata semata melainkan juga melalui media-media informasi yang dapat mengonstruksi kesadaran masyarakat.

Hanya saja mengenai pemikiran konstruktivisme (terutama konstruktivisme Wendt), Steve Smith memberikan kritikan bahwa pemikiran Wendt tidak sepenuhnya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan gap yang terjadi di antara rasionalisme (neo-realisme dan neo-liberalisme) dan reflektivisme (teori kritis, posmodernisme, dll). Ada lima alasan yang dikemukakan Smith:

1. Pemikiran konstruktivisme Wendt tidak cukup memuaskan bagi kalangan reflektivis yang menyukai pandangan yang lebih radikal dibandingkan Wendt.

2. Wendt terlalu “berbau” realis. Ini dapat dilihat dari pendapatnya yang menyatakan “to that extent, I am a statist and realist”. Artinya Wendt tetap memandang bahwa negara merupakan aktor utama dan negara tetap akan mendominasi. Padahal pemikiran ini yang ingin dirubah oleh reflektivisme.

3. Keinginan Wendt untuk menggabungkan rasionalis dan reflektivis bagi Smith tidak mungkin dilakukan terutama berkaitan tentang persoalan “how to construct knowledge.” Rasionalis memiliki landasan positivis sementara reflektivis post-positivis. Dua pandangan ini memiliki perbedaan yang sangat jauh sehingga sulit untuk dikombinasikan.

4. Konsep ‘struktur’ yang dikemukakan Wendt kurang material. Karena bagi Wendt struktur merupakan apa yang dipahami di kepala si aktor. Sementara bagi banyak ilmuwan struktur dipahami sebagai refleksi dari kepentingan yang material.

5. Wendt berpendapat bahwa identitas datang dari hasil proses interaksi. Kritik yang diberikan Smith atas pendapat ini adalah kita tidak datang ke dalam sebuah interaksi tanpa membawa identitas yang sebelumnya telah didapatkan. Artinya identitas yang telah kita peroleh sebelumnya akan mempengaruhi pihak lain yang terlibat di dalam sebuah proses interaksi, begitu juga sebaliknya.

Stephen M. Walt pun memberikan kritikannya terhadap konstruktivisme bahwa kelemahan konstruksivisme terletak pada ketidakmampuannya memberikan solusi atas persoalan (Better of describing the past than anticipating the future).

Bibliography

1. Stephen M. Walt, ‘International Relations: One World, Many Theories’, Foreign Policy, No. 110, Spring 1998.

2. Steve Smith, ‘New Approaches to International Theory’ di dalam John Baylis & Steve Smith (ed.), The Globalization of World Politics: Introduction to International Relations, New York: Oxford University Press, 1997.


[1] Pembahasan beragam perspektif di dalam HI ini didasarkan pada tulisan Stephen M. Walt, ”International Relations: One World, Many Theories’, Foreign Policy, No. 110, Spring 1998 dan Steve Smith, ‘New Approaches to International Theory’ di dalam John Baylis & Steve Smith (ed.), The Globalization of World Politics: Introduction to International Relations, New York: Oxford University Press, 1997.

[2] Stephen M. Walt, ‘International Relations: One World, Many Theories’, Foreign Policy, No. 110, Spring 1998

[3] Buku terbarunya Amy Chua, World on Fire: How Exporting Market Democracy Breeds Hatred and Global Instability, London: Arrows Book, 2004 mungkin dapat dijadikan pegangan dalam memahami pendapat tersebut.

[4] Steve Smith, ‘New Approaches to International Theory’ di dalam John Baylis & Steve Smith (ed.), The Globalization of World Politics: Introduction to International Relations, New York: Oxford University Press, 1997.

[5] Dalam bahasa Smith, “explanatory theory is one of that sees the world as something external to our theories of it; in contras a constitutive theory is one that thinks our theories actually help construct the world.”

[6] Smith, op.cit

[7] ibid. Dengan penekanan oleh penulis.

[8] Ini merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut perdebatan-perdebatan yang terjadi antara realisme dan liberalisme yang memancing terjadinya perkembangan-perkembangan terbaru di dalam tubuh kedua perspektif tersebut.

[9] Smith, op.cit.

[10] Ibid.

[11] Terutama sekali bentukan (konstruksi) yang datang dari hasil konstruksi kesadaran atau pikiran.

    Wh